ASKEP SPINA BIFIDA

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang hingga saat ini masih berkenan menyatukan roh dan jasad kita. Dan Nabi Muhammad yang telah mengubah sebuah pandangan menjadi new paradigma sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Dalam hal ini penyusun mencoba meramu dari berbagai literatur menjadi sebuah makalah, sehingga tersedianya buku dalam jumlah yang cukup merupakan faktor penting dalam penyusun makalah ini.
Makalah yang berjudul “ASKEP SPINA BIFIDA” ini bertujuan agar mahasiswa Akademi Keperawatan Kab. Buton dapat lebih memahami bagaimana proses keperawatan pada pasien spina bifida.
Penyusun telah berupaya maksimal agar makalah ini dapat terselesaikan dengan baik walaupun demikian tentu masih ada kekurangan. Untuk itu penyusun menerima dengan tangan terbuka kritik dan saran dari berbagai pihak, terutama dosen pembimbing mata kuliah KEPERAWATAN ANAK demi penyempurnaan makalah ini pada tugas berikutnya.
Wassalam
Bau-Bau, April 2008
Kelompok V
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .....................................................................................
DAFTAR ISI ....................................................................................................
BAB I KONSEP MEDIS .................................................................................
A. Defenisi ........................................................................................
B. Etiologi .........................................................................................
C. Patofisiologi .................................................................................
D. Gambaran Klinis ...........................................................................
E. Pemeriksaan Diagnostik ...............................................................
F. Penatalaksanaan ...........................................................................
BAB II KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian ....................................................................................
1. Pengumpulan Data .............................................................
2. Pengelompokan Data .........................................................
3. Analisa Data..........................................................................
B. Diagnosa Keperawatan .................................................................
C. Intervensi Keperawatan ..................................................................
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................
KONSEP MEDIS
  1. Defenisi
Spina Bifida (Sumbing Tulang Belakang) adalah suatu celah pada tulang belakang (vertebra), yang terjadi karena bagian dari satu atau beberapa vertebra gagal menutup atau gagal terbentuk secara utuh. Keadaan ini biasanya terjadi pada minggu ke empat masa embrio.
  1. Etiologi
Penyebab yang pasti tidak diketahui, tetapi diduga akibat :
· Genetik
· Kekurangan asam folat dalam masa kehamilan
· Ibu dengan epilepsi yang menderita panas tinggi dalam kehamilannya dan mengkonsumsi obat asam valproic
  1. Patofisiologi
Multifaktor (Idiopatik, genetik, dll)
Vertebra gagal menutup/gagal terbentuk secara utuh
Penonjolan dari korda spinalis dan akar saraf


Penurunan/gangguan fungsi pada bagian tubuh yang dipersarafi


Orang tua menjadi Kelumpuhan/kelemahan Ketidakmampuan mengontrol
cemas pada ekstremitas bawah keinginan berkemih
Kurang terpajan immobilisasi Inkontinensia Urin
informasi
Resiko Kerusakan Integritas Kulit
Kurang pengetahuan
  1. Manifestasi Klinik
Terdapat beberapa jenis spina bifida:
· Spina bifida okulta (tersembunyi) : bila kelainan hanya sedikit, hanya ditandai oleh bintik, tanda lahir merah anggur, atau ditumbuhi rambut dan bila medula spinalis dan meningens normal.
· Meningokel : bila kelainan tersebut besar, meningen mungkin keluar melalui medula spinalis, membentuk kantung yang dipenuhi dengan CSF. Anak tidak mengalami paralise dan mampu untuk mengembangkan kontrol kandung kemih dan usus. Terdapat kemungkinan terjadinya infeksi bila kantung tersebut robek dan kelainan ini adalah masalah kosmetik sehingga harus dioperasi.
· Mielomeningokel : jenis spina bifida yang paling berat, dimana sebagian dari medula spinalis turun ke dalam meningokel.Gejalanya berupa:
1. Penonjolan seperti kantung di punggung tengah sampai bawah pada bayi baru lahir
2. Jika disinari, kantung tersebut tidak tembus cahaya
3. Kelumpuhan/kelemahan pada pinggul, tungkai atau kaki
4. Penurunan sensasi
5. Inkontinensia urin maupun inkontinensia tinja
6. Korda spinalis yang terkena rentan terhadap infeksi (meningitis)
  1. Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.Pada trimester pertama, wanita hamil menjalani pemeriksaan darah yang disebut triple screen. Tes ini merupakan tes penyaringan untuk spina bifida, sindroma Down dan kelainan bawaan lainnya. 85% wanita yang mengandung bayi dengan spina bifida, akan memiliki kadar serum alfa fetoprotein yang tinggi. Tes ini memiliki angka positif palsu yang tinggi, karena itu jika hasilnya positif, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk memperkuat diagnosis. Dilakukan USG yang biasanya dapat menemukan adanya spina bifida.Kadang dilakukan amniosentesis (analisa cairan ketuban).
Setelah bayi lahir, dilakukan pemeriksaan berikut:
- Rontgen tulang belakang untuk menentukan luas dan lokasi kelainan.
- USG tulang belakang bisa menunjukkan adanya kelainan pda korda spinalis maupun vertebra
- CT scan atau MRI tulang belakang kadang dilakukan untuk menentukan lokasi dan luasnya kelainan.
  1. Penatalaksanaan
Pembedahan dilakukan untuk menutup lubang yang terbentuk dan untuk mengobati hidrosefalus, kelainan ginjal dan kandung kemih serta kelainan bentuk fisik yang sering menyertai spina bifida. Terapi fisik dilakukan agar pergerakan sendi tetap terjaga dan untuk memperkuat fungsi otot. Untuk mengobati atau mencegah meningitis, infeksi saluran kemih dan infeksi lainnya, diberikan antibiotik..
Untuk mengatasi gejala muskuloskeletal (otot dan kerangka tubuh) perlu campur tangan dari ortopedi (bedah tulang) maupun terapi fisik. Kelainan saraf lainnya diobati sesuai dengan jenis dan luasnya gangguan fungsi yang terjadi.
Kadang pembedahan shunting untuk memperbaiki hidrosefalus akan menyebabkan berkurangnya mielomeningokel secara spontan .
KONSEP KEPERAWATAN
  1. Pengkajian
  1. Pengumpulan Data
· Orang tua klien mengungkapkan cemas
· Orang tua klien meminta informasi tentang tindakan yang dilakukan
· Orang tua klien sering bertanya tentang penyakit anaknya
· Orang tua tampak gelisah
· Klien tidak dapat mengerakkan kakinya
· Tampak penonjolan seperti kantung di punggung tengah klien
· Orang tua klien mengeluh anaknya terus berkemih dalam jumlah besar
· Enuresis
· Diurnal
· Nokturnal
  1. Klasifikasi Data
Data Subyektif
Data Obyektif
· Orang tua klien mengungkapkan cemas
· Orang tua klien mengeluh anaknya terus berkemih dalam jumlah besar
· Enuresis
· Diurnal
· Nokturnal
· Orang tua klien meminta informasi tentang tindakan yang dilakukan
· Orang tua klien sering bertanya tentang penyakit anaknya
· Orang tua tampak gelisah
· Klien tidak dapat mengerakkan kakinya
· Tampak penonjolan seperti kantung di punggung tengah klien
  1. Analisa Data
No
Symptom
Etiologi
Problem
1
DS :
· Orang tua klien mengeluh anaknya terus berkemih dalam jumlah besar
DO :
· Enuresis
· Diurnal
· Nokturnal
Penonjolan dari korda spinalis dan akar saraf


Penurunan/gangguan fungsi pada bagian tubuh yang dipersarafi


Ketidakmampuan mengontrol pola berkemih


Inkontinensia Urin
Inkontinensia Urin
2
DS :
· Klien mengungkapkan cemas
DO :
· Orang tua klien meminta informasi tentang tindakan yang dilakukan
· Orang tua klien sering bertanya tentang penyakit anaknya
· Orang tua tampak gelisah
Penurunan/gangguan fungsi pada bagian tubuh yang dipersarafi


Orangtua cemas


Kurang terpajan informasi


Kurang Pengetahuan
Kurang Pengetahuan
3
DS : -
DO : -
Penurunan/gangguan fungsi pada bagian tubuh yang dipersarafi


Kelumpuhan/kelemahan pada ekstremitas bawah


Immobilisasi


Resiko Kerusakan Integritas Kulit
Resiko Kerusakan Integritas Kulit
  1. Diagnosa Keperawatan
  1. Inkontinensia urin berhubungan dengan ketidakmampuan mengontrol keinginan berkemih, yang ditandai dengan :
DS :
· Orang tua klien mengeluh anaknya terus berkemih dalam jumlah besar
DO :
· Enuresis
· Diurnal
· Nokturnal
  1. Kurang pengetahuan orang tua tentang proses penyakit dan penanganan penyakit anaknya berhubungan dengan kurang terpajan informasi, yang ditandai dengan :
DS :
· Klien mengungkapkan cemas
DO :
· Orang tua klien meminta informasi tentang tindakan yang dilakukan
· Orang tua klien sering bertanya tentang penyakit anaknya
· Orang tua tampak gelisah
  1. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi.
  1. Intervensi Keperawatan
1. Inkontinensia urin berhubungan dengan ketidakmampuan mengontrol keinginan berkemih
Tujuan:
Inkontinensia urin dapat berkurang/teratasi dengan kriteria:
· Enuresis, diurnal dan nokturnal berkurang/tidak ada
· Klien berkemih dalam jumlah dan frekuensi yang normal
Intervensi:
1. Kaji pola berkemih dan tingkat inkontinensia klien
Rasional :
Sebagai data dasar untuk intervensi selanjutnya
2. Berikan perawatan pada kulit klien yang basah karena urin (dilap dengan air hangat kemudian dilap kering dan diberi bedak)
Rasional :
Perawatan yang baik dapat mencegah iritasi pada kulit klien
3. Anjurkan ibu klien untuk sering memeriksa popok klien, jika basah segera diganti
Rasional :
Popok yang selalu basah dapat menimbulkan iritasi dan lecet pada kulit
4. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat (misalnya: Antikolinergik)
Rasional :
Obat antikolinergik diperlukan untuk menghilangkan kontraksi kandung kemih tak terhambat
2. Kurang pengetahuan orang tua tentang proses penyakit dan penanganan penyakit anaknya berhubungan dengan kurang terpajan informasi
Tujuan:
Orang tua klien dapat memahami proses penyakit dan prosedur penanganan penyakit anaknya,dengan kriteria:
· Orang tua klien tampak tenang
· Orang tua klien dapat menjelaskan proses penyakit dan prosedur penanganan penyakit anaknya
Intervensi:
1. Kaji tingkat pengetahuan orang tua klien tentang proses penyakit dan penanganan penyakit anaknya
Rasional :
Sebagai data dasar dalam emnentukan intervensi selanjutnya
2. Berikan kesempatan kepada orang tua klien untuk bertanya
Rasional :
Memberikan jalan untuk mengekspresikan perasaannya dan mengetahui pemahaman orang tua klien tentang penyakit anaknya
3. Jelaskan dengan baik kepada orang tua tentang proses penyakit dan prosedur penanganannya
Rasional :
Menigkatkan pemahaman orang tua klien tentang penyakitnya anaknya
4. Berikan dukungan positif kepada orang tua klien
Rasional :
Dukungan yang positif dapat memberikan semangat kepada orang tua untuk menerima penyakit anaknya dan membantu proses perawatan.
3. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi
Tujuan:
Kerusakan integritas kulit tidak terjadi dengan kriteria:
· Kulit tampak halus dan lembut
· Tidak ada iritasi/lecet, dekubitus
Intervensi:
1. Kaji tingkat keterbatasan gerak (immobilisasi) klien
Rasional :
Sebagai data dasar untuk intervensi selanjutnya
2. Rubah posisi klien setiap dua jam
Rasional :
Penekanan yang lama pada salah satu bagian tubuh dapat menyebabkan terjadinya dekubitus
3. Jaga pakaian dan linen tetap kering
Rasional :
Pakaian dan linen yang basah dapat mengiritasi kulit
4. Ajarkan pada orang tua klien untuk memassage daerah yang tertekan, gunakan lotion
Rasional :
Memperlancar peredaran darah, meningkatkan relaksasi dan mencegah iritasi

0 komentar:

Posting Komentar